Radar Kepahiang, UJAN MAS
SATU unit alat penetas burung puyuh yang baru saja tuntas dikerjakan, terpajang rapi di muka rumah Andi. Ya,
saat disambangi RK di kediamanya, Rabu (19/2) Andi mengaku untuk menuntaskan satu unit alat penetas burung puyuh dia membutuhkan waktu setidaknya 1 minggu. Lalu, darimana pula seorang jebolan SD mendapatkan ide membuat alat penetas? Dia menuturkan, semua bermula dari internet yang pertama kali dikenal melalui seorang rekannya. "Saat saya bekerja dan merantau di Jambi, saya memiliki seorang teman yang pertama kali mengenalkan internet. Sejak saat itu, saya mulai sedikit tahu internet dan betapa banyak yang bisa dilakukan di sana," ungkap Andi yang pernah bekerja sebagai penyadap karet ini.
Setelah kembali ke desanya, dia mulai tergerak untuk beternak burung puyuh karena menjanjikan. Namun, keinginannya itu terhalangi dengan harga anak puyuh yang melangit. Karena itu pula dia tertantang, merakit mesin tetas sendiri dan langsung mencari informasi melalui internet. "Di internet saya juga bergabung dengan komunitas yang membuat alat tetas puyuh ini. Di sanalah saya banyak belajar dan bertanya dengan yang sudah lebih dahulu bisa," ungkapnya. Dengan berbekal ilmu yang didapat, mulailah Andi merakit mesin tetasnya sendiri.
Namun dalam percobaannya bukan tidak terjadi masalah, tapi permasalahan tersebut dia langsung tanyakan dengan temannya melalui internet. "Alhamdulillah bisa jadi seperti sekarang ini," ungkapnya.
Mesin tetas yang dibuatnya berbentuk persegi dengan bahan dari kayu dan pemanasnya dari lampu pijar, dengan kapasitas 600-1.000 telur tetas. "Untuk pengatur suhu kita gunakan termometer dan inkubator sebagai otomatis pengatur suhu," ungkapnya .
Saat ini mesin tetas hasil ciptaanya, sudah dipesan 3 orang karena tertarik dengan produk dibuatnya yang bagus, harganya juga sangat terjangkau. Satu unit alat tetas hasil ciptaannya, dihargai Rp 2,5 juta. Dengan rincian, 1 boks penetasan dengan kapasitas 1.000 butir, dan boks peranakan setelah telur menetas. "Untuk keberhasilan mesin penetas ini mencapai 80 persen. Selain itu saya juga sudah berusaha memasarkannya ke toko-toko online di internet," ungkapnya.
Ke depan dia akan mengembangkan peternakan puyuh yang sudah mulai dirintasnya, hingga mencapai kapasitas 6.000 ekor. "Saat ini baru 600 ekor yang berhasil ditetaskan," ungkapnya. Kemauan belajar dan usaha yang terus menerus, merupakan motivasi yang terbesar dalam dirinya untuk selalu maju. "Saya bermimpi suatu saat Ujan Mas bisa menjadi sentra penghasil puyuh terbesar di Kepahiang," singkatnya. (**)